Dampak Kenaikan BBM
Setelah jam menunjukkan jam 5 sore kami memutuskan untuk pulang setelah bergumul seharian di ruang CES. Berkarya dan mencoba berbuat sesuatu!!! Sebelum pulang kami sambung rasa dulu dengan mas mursyid penguasa parkiran. Ngobrol sambil cari objekan yang menarik untuk difoto. Tinggal motor Pak Cahyono Iksan yang ada di parkiran, daripada nungguin Pak Cahyono Iksan yang tak tau lagi ngapain?? Kami bertiga memutuskan untuk pulang saja, tanpa memperdulikan nasib Pak Cahyono Iksan nantinya. Sekali-kali biar motornya dijunjung aja, kayak aku dulu ma Taufiq (ini adalah sebuah kebodohan dan tidak patut untuk dicontoh).
Pulang kami tidak melewati rute yang biasa, tak kirain mau nyari objek foto. Rute yang normal untuk ditempuh parkiran-depan UPT-pertigaan dekat KOPMA-depan rektorat-boulevard-pulang, tapi ini lain parkiran-pertigaan ekonomi sastra-perempatan sastra perpus-depan KOPMA-depan rektorat-boulevard-pulang. Ternyata kami ga cari objek foto tapi kami cuma muter-muter melepas penat. Di depan rektorat motor sudah kayak kuda, maju mundur maju mundur. Ini adalah suatu gejala kehabisan bensin, kami tak patah arang. Motor diga
s lebih kenceng lagi, eh motor malah ngeden………
Ini ibaratnya adalah orang yang sangat haus malah disuruh lari. Ini adalah sebuah penyiksaan dan melanggar hak asasi motor. Depan ATM Permata motor sudah benar-benar letoy tak berdaya, sudah tidak ada tenaga lagi, sudah sampai klimaksnya. Motor mati !!! kami dipaksa untuk turun dan menuntunnya (klo kita kembali ke masa lampau ternyata kejadian ini pernah terjadi di tempat yang hampir sama, kebodohan karena tidak belajar dari pengalaman). Karena mahalnya harga BBM maka pembelian bensin pun seperlunya saja. Perjalanan yang ga perlu ya harus nuntun kayak gini…
Banyak orang yang mengamati dan takjub pada kami. Kami ga peduli, karena kami sudah terlalu sering diperhatikan. Taufiq berlari sekuat tenaga membawa motor aku ditinggalnya dibelakang. Dan aku ga tahu alasan kenapa dia harus lari, padahal jalan aja ga ada yang nglarang. Di seberang jalan depan Restaurant Arum Manis diputuskan untuk beli bensin eceran. Satu hal yang aku ga habis mikir
adalah kenapa harus membeli bensin disini??? Padahal tidak sampai 50 meter dari sini ada Pom Bensin. Ini adalah bukti dari kekuasaan ALLAH, ALLAH itu Maha Adil terhadap para hambanya. Akibat dari kebodohan Taufiq, penjual bensin jadi dapat rejeki. Pak penjual jadi merasa senang, keluarganya dapat makan, anak-anaknya dapat sekolah. Klo kita runut Taufiq akan mendapatkan banyak pahala dari kejadian ini. Ini adalah hikmah yang dapat kita ambil. Kadang-kadang kita harus melakukan kebodohan untuk mendapatkan pahala.
Ditulis SingMbaurekso untuk blog sipil2004

