Pendidikan atau Pelatihan

Oktober 16, 2008 at 12:20 am (1)

Pertanyaan di atas mungkin terdengar sedikit naif, tidak penting atau malah konyol? Persoalan yang sesederhana itu saja dipertanyakan. Ya jelas beda, pendidikan itu dilakukan di sekolah, namanya juga mendidik. Kalau pelatihan itu diberikan di kursus-kursus, lembaga pelatihan, diklat dan lain-lain. Sekilas jawaban di atas, cukuplah memuaskan. Sekarang saya akan ajukan pertanyaan lanjutannya: sekolah yang ada saat ini itu mendidik atau melatih? Wah, itu bahkan sebuah pertanyaan yang lebih konyol lagi. Ya mendidik dan juga melatih. Mendidik dengan pelajaran-pelajaran moral dan melatih dengan keahlian-keahlian yang akan dapat dipakai nantinya di dalam dunia kerja. Itulah kelebihan sekolah dibandingkan dengan lembaga-lembaga pelatihan atau kursus. OK, jawabannya saya terima. Pertanyaan berikutnya: apa sih yang diharapkan dari sebuah pendidikan? Nah kalau ini pertanyaannya lumayan. Jawabannya supaya terdengar sedikit elit akan saya ambil dari undang-undang. Menciptakan manusia Indonesia yang beriman, bertakwa dan berilmu. OK, pertanyaan berikutnya: apakah kita sudah beriman, bertakwa dan berilmu? Wah kalau itu sih belum sepenuhnya. Pendidikan kita masih morat-marit soalnya. Jadi bagaimana kita membenahi semua ini? Ya kita mulai dari sekolah, anggaran pendidikan dinaikkan, kesejahteraan guru dinaikkan, dsb, dsb.

Sekarang marilah kita kritisi jawaban atas pertanyaan di atas. Pater Drost S.J. pernah membahas persoalan di atas dalam artikelnya beberapa tahun yang lalu dengan judul yang mirip: “Sekolah: Mengajar atau Mendidik?” Menurut beliau jawaban bahwa sekolah melakukan kedua-duanya bukanlah sebuah jawaban karena melarikan diri dari esensi persoalan sesungguhnya. Saya sepenuhnya setuju. Dan dalam tulisan ini saya akan memberikan sebuah tekanan di sisi lain.

Saya akan mulai dengan sebuah tesis bahwa sekolah sekarang tidak mendidik, hanya melatih. Wah apa Anda tidak keliru dengan tesis seperti itu? Ya, sekolah sekarang telah menyimpang dari tujuannya yang mulia yaitu mendidik. Untuk itu lebih baik saya jabarkan dulu apakah pendidikan dalam pengertian saya. Pendidikan dalam arti luas adalah budaya, cara manusia untuk mempertahankan eksistensinya di muka bumi ini. Ia adalah sebuah proses untuk menurunkan pengetahuan yang diperoleh dari generasi sebelumnya kepada generasi yang baru. Pengetahuan itu bisa bermacam-macam: teknologi untuk mempermudah hidup, sejumlah norma untuk menjaga keutuhan ikatan sosial, etika untuk mencapai kebaikan bersama. Produk budaya inilah yang membuat manusia mampu bertahan sebagai sebuah spesies yang sukses. Proses ini membuat sebuah akumulasi pengetahuan yang eksponensial, setiap generasi tidak perlu lagi memulai sesuatu dari nol melainkan memperoleh akumulasi dari pengetahuan generasi sebelumnya. Sebuah kata kunci dalam proses ini adalah perubahan. Akumulasi pengetahuan ini tidaklah statis, ia haruslah tanggap terhadap perubahan. Kalau tidak, tidaklah ada gunanya. Kecepatan untuk mengatasi perubahan inilah yang menjadikannya sebuah alat ketahanan yang luar biasa. Manusia tidak perlu berubah secara fisiologis, karena akan membutuhkan ribuan generasi, melainkan hanya perlu mengubah cara hidupnya, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh binatang. Dialah garansi supaya kita tidak punah!

Sekarang kita melihat dua dilema dalam pendidikan, di satu pihak ia haruslah menurunkan pengetahuan dari generasi lama, alias mendukung status quo, di pihak lain ia harus peka terhadap perubahan, alias progresif. Dan dari jaman dulu yang namanya status quo dan progresif selalu bertempur, paling tidak gencatan senjata. Di mana posisi pendidikan saat ini. Saat ini status quo berkuasa. Perubahan yang diusung oleh ilmu-ilmu murni seperti sepeda kehabisan angin. Di mana-mana jumlah mahasiswa ilmu murni menurun, kalah pamor dengan ilmu terapan, yang menawarkan segala kemapanan dalam kehidupan modern. Pendidikan menjadi hanyalah menjadi sebuah pelatihan. Ia melatih orang menjadi seorang insinyur, seorang dokter, seorang akuntan, dll. Jargon pendidikan sekarang adalah mendidik tenaga ahli!

Bahayakah ini? Ya, lebih dari pada yang Anda bayangkan. Kemapanan dan kenyamanan kehidupan modern di satu pihak membuat hidup lebih mudah, tapi di pihak lain membuat kita terlena. Saya tidak menafikan bahwa kita tidak butuh insinyur, dokter dan semua tenaga ahli lainnya. Kita membutuhkan mereka, sangat butuh malah, apalagi di dunia ketiga seperti Indonesia. Tapi bukan itu saja yang kita butuhkan. Kita juga butuh pionir, pembuka jalan peradaban:orang-orang berani berjalan di muka untuk memastikan bahwa perjalanan umat manusia di masa depan dapat berjalan dengan mulus. Kita memang tidak butuh banyak orang seperti itu, cukup segelintir saja, namun niscaya. Dan yang lebih penting lagi dukungan dari manusia yang lain untuk memberi sangu mereka dalam perjalanan mereka merambah hutan peradaban baru. Kiranya pantas kita menyangui mereka karena masa depan di tangan mereka. Merekalah yang membuat rambu-rambu di depan kita. Mereka akan berseru kalau kita salah jalan dan harus berbalik arah.

Di manakah posisi kita saat ini? Kita kekurangan orang-orang seperti itu. Kita bagaikan sebuah karavan yang maju tanpa arah yang jelas. Meminjam istilah Anthony Giddens, kita bagaikan sebuah juggernaut yang blong tanpa rem dan tinggal menunggu waktu saja jatuh lewat jalan yang curam ke jurang. Pendidikan telah gagal. Ia lebih mengabdi pada status quo, dengan iming-iming ketentraman dan kenikmatan, karena menjadi pionir memang tidaklah mudah dan penuh tantangan dan penderitaan.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Haruskan kita bubarkan semua sekolah yang telah ada? Saya tidak berkata demikian. Yang harus kita lakukan adalah melakukan sebuah redifinisi atas sekolah. Sekolah harus mengakomidasi dua kepentingan yang sepertinya berlawanan, status quo dan progresif, dengan kata lain ideologi kanan dan kiri, konservatif dan sosialis. Sistem pendidikan saat ini yang lebih condong ke kanan harus dikembalikan ke tengah. Apa yang harus kita tempuh untuk mencapai hal di atas? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah membenahi regulasi yang hanya memungkinkan satu sistem pendidikan yang hidup. Pendidikan haruslah dibiarkan plural. Lho, kalau begitu bagaimana dengan standardidasi dan kualitas kelulusan? Ingat! Kita harus keluar dari paradigma bahwa sekolah adalah pencetak tenaga kerja, sehingga murid dianggap sebagai produk yang harus distempel oleh bagian quality assurance apakah ia layak pakai atau tidak. Pendidikan yang mengakomodasi banyak sistem akan memberikan ruang untuk terjadinya dialektika antar beberapa mahzab pendidikan. Yang menginginkan pendekatan agama silahkanlah mendirikan madrasah dengan kurikulum yang mereka inginkan. Yang menganut sistem liberal arts juga silahkan. Yang anarkis seperti Illich juga silahkan. Biarlah dunia pendidikan ramai oleh sebuah diskusi besar, dan semuanya diharapkan dapat saling mengisi kekurangan masing-masing. Saya percaya masing-masing sistem memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Kalau begitu bagaimana dengan pelatihan tenaga ahli? Pelatihan tenaga ahli dibedakan dengan pendidikan secara umum. Oleh sebab itu haruslah ada pembedaan yang jelas atas sekolah umum dan sekolah kujuruan. Saya mengusulkan bahwa pendidikan umum yang wajib dijalani setiap anak didik cukup sampai 9 tahun, dan pendidikan kejuruan tidak boleh diadakan pada level tersebut. Ini bukan berarti meregulasi bahwa orang tidak boleh belajar keahlian pada usia dini. Mereka tetap bisa belajar di luar sekolah kejuruan. Sekolah kejuruan yang dimaksud di sini adalah sekolah yang dikhususkan untuk mencetak tenaga ahli, alias tenaga profesional. Dengan memberikan pendidikan keahlian terlalu awal akan mengambil hak anak untuk mendapatkan pendidikan umum yang memberikan makanan bagi jiwanya.

Di tahap pendidikan harus ada garis batas yang jelas antara mencetak pemikir (scientists) dan tenaga ahli (professionals). Keduanya adalah jalur yang sungguh berbeda. Setiap bidang keilmuan sebenarnya selalu memiliki dua sisi ini, ilmu murni dan terapan. Kiranya kita perlu membedakan kedua sistem ini, contoh untuk ilmu kedokteran, perlu dibedakan institusi yang mencetak dokter sebagai profesi dan dokter sebagai seorang ilmuwan. Kedua memakai pendekatan yang sama sekali berbeda. Yang satunya memakai metode sedangkan yang satunya juga mencari metode baru. Begitu pula dengan ilmu hukum dan akuntansi. Dengan menyatukan mereka dalam sebuah institusi yaitu universitas justru banyak menghilangkan fungsi yang satunya yaitu fungsi keilmuan sehingga menjadi lebih condong pada fungsi keahlian. Untuk itulah perlu pembedaan yang jelas antara universitas sebagai pusat keilmuan, dan politeknik sebagai pusat keahlian.

Lalu bagaimana dengan sertifikasi. Saya tidak bilang bahwa sertifikasi tidak perlu, tapi ia bukanlah tanggung jawab pendidikan. Sertifikasi biarlah diatur oleh lembaga profesi yang bersangkutan. Lembaga profesi sekarang terlalu banyak terlibat dalam pendidikan sehingga ia membentuk sistem pendidikan seperti yang mereka inginkan. Outcome (bukan output) dari pendidikan adalah kesadaran yang tidak bisa diukur dengan angka, sehingga naif sekali kalau seorang anak dikatakan lulus hanya dengan berdasarkan angka ujiannya. Setiap guru pasti tahu bahwa anak didiknya hanya hafal ketika ujian dan sesudah itu seluruhnya akan menguap dari kepalanya. Sedangkan keahlian atau kompetensi adalah sesuatu yang terukur sehingga bisa diuji. Setiap orang harus mendapat kesempatan yang sama untuk belajar suatu keahlian: ilmu yang bisa diperoleh secara bebas dengan biaya yang terjangkau, buku yang tersedia luas, dan biaya sertifikasi yang murah, hanya sebagai ongkos administrasi. Sertifikasi tidak boleh menjadi sebuah pembatas yang sengaja diciptakan untuk membuat orang tidak bisa memasuki suatu bidang profesi, hanya kaena biaya sertifikasi yang terlalu mahal.

Yang kedua adalah kesadaran bahwa kita membutuhkan rasio yang lebih masuk dari universitas dan politeknik sebuah puncak dari pendidikan dan pelatihan. Jumlah pemikir pasti jauh lebih sedikit dari tenaga ahli. Universitas cukup menampung sepuluh persen, dan sisanya politeknik. Jumlah universitas sekarang terlalu banyak sehingga menimbulkan apa yang saya istilahkan dengan inflasi keilmuan. Hal ini juga terjadi karena masyarakat kita terlalu memuja status (yaitu gelar sarjana), yang membuat permintaan pasar akan gelar sarjana, bukan keilmuan, meningkat dan didirikanlah universitas di mana-mana. Langkah yang ditempuh sekarang yaitu akreditasi tidaklah tepat karena pemeringkatan hanyalah dapat dilakukan jika kita masih memakai paradigma lama. Yang harus dilakukan adalah melakukan pengurangan drastis jumlah universitas dan mengkonversinya menjadi politeknik. Satu atau dua universitas di setiap propinsi sudah lebih dari cukup. Lagi pula kemampuan intelektual anak yang diharapkan dapat menjadi seorang pemikir memang kurang dari sepuluh persen. Yang lainnya jangan dipaksakan.

Yang lebih sulit mungkin mengubah pandangan masyarakat bahwa anak-anak mereka harus menjadi seorang sarjana. Sarjana bukanlah sebuah status melainkan sebuah tanggung jawab. Ia lebih menjadi sebuah beban ketimbang sebuah kebanggaan. Seorang sarjana adalah seorang yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemajuan peradaban manusia. Berpikir ialah tugasnya. Meskipun ia tidak memberikan kontribusi langsung, masyarakat harus menanggung hidup mereka, karena kelangsungan peradaban tergantung dari mereka.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sekolah di Inggris

Oktober 15, 2008 at 12:14 am (1)

Sekelumit: SD di Inggris

Di England, anak masuk klas 1 SD sudah diwajibkan dapat membaca dan menulis. Padahal anak-anak ini masuk SD sangat dini sekali, umur 5 tahun. Jadi umur 3 tahun sudah masuk Nursery dan 4 tahun masuk tahap Reception. Berbeda dengan pengalaman sewaktu di Australia, dimana masih banyak anak-anak kelas 4 SD yang membaca pun masih megap-megap. Jadi biasanya anak Indonesia yang bersekolah SD di Australia menjadi champion, sekembalinya di Indonesia
menggeh-menggeh dan banyak yang nggeblag….kalau pas jalan di tempat yang licin, maksudnya……..Eh tapi ini bener, cukup banyak sampel anak teman-teman yang bersekolah di Australia mengalami hal ini.

Di England, Nursery hanya belajar dari jam 09.00 – 12.30.Yang Reception sudah ndina muput (itu bahasa inggrisnya, bahasa jawanya fullday: 09.00 – 15.30) dengan break minum juz dan makan siang. Anak yang masuk reception, syarat utamanya sudah harus dapat mengurus diri sendiri: ke toilet, makan dengan sendok, cuci tangan, dst. Di reception ini mulai diajarkan baca, nulis, dan main komputer dengan topik sederhana (nge-print gambarnya dsb).

Beberapa waktu lalu saya membaca berita bahwa sebenarnya kurikulum pendidikan di Indonesia itu disusun dengan mempertimbangkan kurikulum di USA, Jerman dan England. Saya sempat mengamat-amati, tampaknya untuk beberapa hal memang mirip antara yang diterima anak saya di SD dengan yang diajarkan di Indonesia. Kebetulan, ada rekan yang nglungsuri buku panduan Matematika (2A, 2B, 2C dsb), dan Bahasa Indonesia yang dipakai di SD Al Azhar – Jakarta. Sewaktu saya bandingkan dengan pelajaran yang diterima anak saya, tampaknya tingkat kesulitan untuk bidang matematika hampir sama. Kalau yang bahasa Indonesia, pasti lebih sulit yang di Al Azhar itu,..karena anak saya nggak diajari Bahasa Indonesia di Inggris….he..he… guyon aja senengnya.

Secara keseluruhan materi pengajaran tidak banyak, tetapi pemahaman dan penghayatannya bagus sekali. Misalnya untuk materi science, anak-anak disuruh mengamati berbagai macam benda bergerak, ya anaknya di bawa ke taman mainan (ayunan, prosotan, kuda-kudaan, dst). Disuruh nggambar di alam terbuka (jadi gambarnya enggak melulu gunung kembar – sungai dan matahari).Dibawa ke hutan untuk menanam bibit-bibit pohon – agar cinta lingkungan. Sudah diajarkan juga penggunaan komputer dan pengenalan internet.


Ada test nasional yang meliputi English dan Math pada level tertentu: Key Stage 1 (Kelas 2) dan Key Stage 2 (lupa saya, kalau gak salah kelas 6).Yang menarik, di English test, anak ditest materi Reading, Comprehension,Writing, dan Speaking. Jadi semacam IELTS test itu. Ya pantes aja ya…orang Inggris skor IELTS nya tinggi-tinggi, lha sudah latihan duluan sejak kelas 2 SD sih……..Kita mah nunggu beasiswa ada dulu, baru latihan khan….he..he…cari alesan aja ya, orang Indonesia kalau kalah.

Hal lain lagi yang menarik adalah, jika dalam national test itu anak-anak dapat mencapai skor di atas rata-rata national, maka anak dapat lompat kelas. Jadi dari kelas 2 tidak harus ke kelas 3, langsung ke kelas 4.

Permalink & Komentar

Penerimaan CPNS Departemen Perindustrian RI TAHUN 2008

Oktober 13, 2008 at 12:38 am (Lowongan Kerja dan Beasiswa)

Departemen Perindustrian membuka kesempatan kepada Warga Negara Indonesia lulusan Strata 2 (S2), Strata 1 (S1), Diploma 4 (D4), Diploma 3 (D3),untuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Perindustrian.
I. PERSYARATAN UMUM

1. Persyaratan Pelamar :
a.      WNI berusia serendah-rendahnya 18 Tahun dan setinggi-tingginya 30 Tahun pada tanggal 1 Oktober 2008.
b.      Memiliki kualifikasi jabatan dan pendidikan yang dibutuhkan.
c.     Pelamar berasal dari Jurusan yang Terakreditasi A oleh Depdiknas untuk pendidikan Strata 2 (S2), Strata 1 (S1)/Diploma IV (D.IV), dan Terakreditasi B untuk Diploma III (D.III) kecuali Akademi dengan spesialisasi Teknologi Kulit.
d.      Tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, karena melakukan suatu tindak pidana kejahatan.
e.      Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai PNS/TNI/POLRI, atau diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai swasta/pegawai BUMN/BUMD/Koperasi.
f.        Tidak berkedudukan sebagai Calon/Pegawai Negeri.
g.      Berkelakuan baik berdasarkan catatan dari kepolisian setempat.
h.      Sehat jasmani dan rohani berdasarkan keterangan Dokter.
i.         Bersedia ditempatkan diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (Yang tidak terbatas pada tempat melamar dan tempat ujian).
j.        Bersedia mengganti rugi bila setelah diterima, kemudian mengundurkan diri.
2. Kualifikasi Pendidikan
a.      Diploma III (D3) : 65 orang
c.      Strata I (S1)/ Diploma 4 (D4) : 173 orang
d.      Strata II (S2) : 23 orang
Jumlah formasi dan kualifikasi pendidikan yang diperlukan, secara rinci tercantum dalam Lampiran Pengumuman ini.
3. Umur
a)      Untuk Diploma III (D3) / Sarjana Muda pada tanggal 1 Oktober 2008 berusia maksimal 25 tahun.
b)      Untuk Strata II (S2), Diploma IV (D4) dan Strata I (S1) berusia maksimal 30 tahun.
4. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK: skala 4)
a)      Untuk Diploma III (D3)/Sarjana Muda, Diploma IV (D4) dan Strata I (S1) minimal 2,75.
b)     Untuk Strata II (S2) minimal 3,00.
Selengkapnya lihat di http://www.depperin.go.id

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Laskar Pelangi Untuk Negeri

Oktober 13, 2008 at 12:27 am (Tidak Masuk Kategori Apapun)

Laskar Pelangi. Banyak hal memenuhi ruang pikiran dan perasaanku sehabis membaca novel dan menonton filmya. Sekarang aku mencoba menstrukturkan semua itu dengan cara menuliskannya, dan mencoba menuliskannya dengan gaya agak “beda” :D . Semoga juga bermanfaat bagi yang lain.

Warna paling cerah dari pelangi itu

Lintang memotong penuh minat, kami ternganga-nganga, Bu Mus tersenyum senang. Beliau menyampingkan ego. Tak keberatan kuliahnya dipotong. Beliau memang menciptakan atmosfer kelas seperti ini sejak awal. Memfasilitasi kecerdasan muridnya adalah yang paling penting bagi beliau. Tak semua guru memiliki kualitas seperti ini. Bu Mus menyambung, “Negeri yang terdekat itu…”

“Byzantium! Nama kuno untuk konstantinopel, mendapat nama belakang itu dari The Great Contantine. Tujuh tahun kemudian negeri itu merebut lagi kemerdekaannya, kemerdekaan yang diingatkan dalam kitab suci dan diingkari kaum musyrik Arab, mengapa ia disebut negeri yang terdekat (adnal ardli, red) Ibunda Guru? Dan mengapa kitab suci ditentang?”

“Sabarlah anakku, pertanyaanmu menyangkut penjelasan tafsir surah Ar-Ruum dan itu adalah ilmu yang telah berusia paling tidak seribu empat ratus tahun. Tafsir baru akan kita diskusikan nanti kalau kelas dua SMP…”

“Tak mau Ibunda, pagi ini ketika berangkat sekolah aku hampir diterkam buaya, maka aku tak punya waktu menunggu, jelaskan di sini, sekarang juga!”

Kami bersorak dan untuk pertama kalinya kami mengerti makna adnal ardli…

Penggalan dialog di ataslah yang pertama kali memberiku sensasi tersendiri tentang karakter Lintang yang menarik. Tampak benar antusiasme, semangat, kecerdasan, rasa syukur, rendah hati, pengorbanan, rasa penghargaan terhadap ilmu, dan rasa penghargaan terhadap hidup yang besar dari anak pesisir itu. Anak sekecil itu.

Menurutku, dialah warna yang paling cerah dari pelangi itu. Bisa jadi penulisnya terlalu melebih-lebihkan karakternya, tapi dugaan itu tidak merubah persepsiku dan semangatku yang diakibatkannya.

Ikal menyebut Lintang seperti mercusuar yang menerangi dan menjadi petunjuk, memberikan semangat hidup, mengangkat rasa percaya diri teman-temannya yang miskin dan berasal dari sekolah kampung. Membuat mereka berani untuk bercita-cita.

Si jenius didikan alam itu menjadi inspirasi luar biasa bagi Laskar Pelangi. Sang penulis tak berlebihan nampaknya. Semangatnya bahkan sampai kepadaku yang hidup berbeda zaman dengannya, dan mengenalnya, bahkan hanya dari sebuah novel.

Mungkin dia lebih berhak

Lintang harus menempuh 80 km perjalanan rumah-sekolah setiap harinya. Bahkan perjalanan yang berbahaya, mengancam nyawa. Tapi dia datang paling pagi dan tidak pernah membolos. Semangat yang luar biasa.

Tapi sayang, sang Elvis harus meninggalkan tempat lebih awal. Ayahnya meninggal dunia dan kini, dia, sebagai anak laki-laki tertua, yang harus menghidupi 14 orang anggota keluarganya. Dia bahkan belum lulus SMP. Dia tidak punya peluang untuk melanjutkan sekolah.

Air mataku meleleh ketika disuguhkan adegan perpisahan antara Lintang dengan teman-teman dan gurunya di gerbang SMP Muhammadiyah dalam filmnya di layar lebar. Bukan hanya aku, semua orang yang nonton bersamaku juga.

Mungkin yang lebih berhak untuk mendapatkan fasilitas pendidikan di ITB ini adalah Lintang, dan Lintang-Lintang lain yang tak terkira jumlahnya di negeri ini, dan bukannya aku, dan bukannya mereka yang sekarang memakan uang rakyat, bukannya mereka yang kuliah hanya untuk memperkaya dirinya sendiri, dan bukannya mereka yang rela mencontek hanya demi menyelamatkan nilai ujian, dan bukannya aku, karena dia mungkin bisa lebih bermanfaat untuk manusia daripada aku. Apa yang harus kukatakan di akhirat nanti?

Kemiskinan yang tidak adil

Kemiskinan tidak mungkin hilang. Akan selalu ada orang miskin sampai kiamat nanti. Tapi kemiskinan di negeri ini tidak adil. Kemiskinan di negeri ini adalah kemiskinan yang membatasi, dan mengubur dalam-dalam setiap potensi keunggulan dalam diri seseorang.

Kemiskinan di negeri ini telah memonopoli sesuatu yang berharga, yang bernama kesempatan. Sistem di negeri ini tidak memberikan orang-orang miskin itu kesempatan untuk hidup lebih baik, untuk memancarkan potensi dalam dirinya yang memesona, atau sekedar untuk mengetahui bahwa mereka punya cahaya di dalam diri mereka. Akibatnya mereka terjebak dalam lingkaran setan tanpa pernah bisa keluar. Kesempatan itu bernama pendidikan, ya, pendidikan. Mahal sekali benda itu di sini.

Ngeri aku membayangkan diriku jadi presiden, atau jadi menteri kesejahteraan rakyat yang akan ditanyai nanti perihal orang-orang melarat di negeri ini. Ngeri aku membayangkannya..

Film para Pahlawan

Aku senang sekali novel Laskar Pelangi difilmkan. Aku menontonnya di bioskop, dan bukan membeli DVD bajakannya di pinggir jalan (walaupun aku sudah tidak pernah lagi), sebagai tanda apresiasiku pada film ini. Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang mengapresiasi setiap usaha perbaikan di negeri ini, sekecil apa pun.

Aku senang melihat para pahlawan itu menginspirasi para penonton. Ya, Pak Harfan dan Bu Mus, mereka adalah pahlawan. Aku senang melihat anak-anak, pemuda, orang tua, guru, dan pejabat di negeri ini terinspirasi oleh mereka, mengambil teladan dari mereka, mengidolakan mereka. Dan bukannya mengidolakan boneka-boneka cantik dan lugu yang memakai rok mini, muda mudi yang sibuk mengasihani diri sendiri karena putus cinta, atau hantu-hantu yang terus membodohi masyarakat dalam kemusyrikan. Aku senang jika kisah orang-orang baik diabadikan dan dikemas dengan menarik.

Dari segi kualitas film, aku salut pada para sineasnya. Kekagumanku terletak pada tangkapan latar alam Belitong yang memukau, akting yang jenius dan alamiah, dialog-dialog yang monumental, jenaka, dan cerdas, serta iringan musik yang semakin memenuhi ruang hatiku ketika menontonnya, penuh oleh luapan emosi yang dalam.

Ini merupakan salah satu film Indonesia terbaik yang pernah aku tonton. Menurutku, yang bisa menandinginya mungkin hanya dua Naga Bonar itu.

Pendidikan

Mengena betul perkataan pak Harfan di halaman sekolah itu, “di sini kecerdasan tidak diukur dari nilai-nilai, tapi menggunakan hati..”

Begitulah seharusnya pendidikan bekerja. Benar-benar berinteraksi dengan jiwa manusia, menyelaminya, memahaminya, mengarahkannya, menginspirasinya. Benarlah komentar Kak Seto yang tertulis pada sampul novel ini, “pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak, bukan sekedar memberikan instruksi atau komando”.

Hasilnya, Laskar Pelangi itu benar menjadi pelangi. Berwara-warni tapi semuanya indah. Pendidikan tidak mencetak manusia menjadi satu bentuk. Sama sekali tidak. Pendidikan yang baik tidak mematikan potensi, tapi justru melejitkannya, dan mengarahkannya untuk kebaikan. Masing-masing berkembang sesuai karakternya sendiri-sendiri. Dari sana, mereka akan berkembang menjadi apa saja.

Inilah perwujudan kata-kata Hasan Al-Banna dahulu: “pendidikan bukanlah segala-galanya, tapi segala-segalanya berawal dari pendidikan”.

Persahabatan

Berterimakasihlah pada sahabatmu karena dialah yang membuat masa kecilmu indah dan masa mudamu manis dikenang. Dialah yang membuat hari-hari perjuangan yang sulit menjadi ringan.

Dan bersyukurlah kepada Allah karena Dialah yang mempersatukan hatimu dan hati sahabatmu. Tiada yang sanggup melakukannya kecuali Dia, walau seberapa banyak pun yang kau korbankan untuknya. Dan berjuanglah bersama demi pertemuan yang indah di surga kelak.

Keihklasan

Pak Harfan, Bu Mus, dan guru-guru SD itu mungkin tidak pernah bermimpi bahwa nama mereka akan dikenal di seantero negeri karena perjuangannya dulu. Dahulu hanya ada sekolah kampung yang mirip gudang, beberapa murid yang hidupnya susah, serta gaji yang dibayar dengan beras. Mereka bekerja dalam sepi. Tapi mereka tahu bahwa kerja itu harus dilanjutkan.

Tapi kelak nama mereka siapa yang tidak mengenalnya. Mereka kini membuat haru dan menginspirasi banyak orang. Rupanya Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk mempublikasikan jasa hamba-Nya.

Penyakit Akut

Kebanayakan orang di negeri ini, mungkin aku salah satunya, mereka terjangkit suatu penyakit akut yang sudah lama diderita para pendahulunya: pandai mengagumi tapi tidak pandai meneladani.

Hitung saja berapa banyak orang memunja Bung Karno tapi semangat berjuang Bung Karno bahkan tidak tampak pada raut wajahnya sekalipun. Hari ini orang memuji-muji keikhlasan Pak Harfan, keteguhan Bu Mus, semangat Lintang, tapi hanya sebagiannya yang tetap ingat untuk meneladani. Kita termasuk yang mana?

Semoga kita tetap ingat, termasuk ingat pada petuah pak Harfan yang sering diulangnya itu: “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”. Semoga.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

L0w0n94n CPNS

Oktober 13, 2008 at 12:14 am (1, Lowongan Kerja dan Beasiswa)

Lowongan CPNS terbaru bulan Oktober 2008

Lowongan CPNS terbaru bulan Oktober 2008

Buat yang lagi nyari2 lowongan Pegawai Negeri Sipil (PNS) ataupun yang udah kerja tapi tertarik mau jadi PNS, bergembiralah… D ini ada banyak sekali informasi pembukaan lowongan pekerjaan di Kementerian Negara/Departemen2 RI. Ada di BKPM, ESDM, Departemen Kehutanan, Departemen Perdagangan dan Departemen Hukum dan HAM. Posisi yang ditawarkan berbagai macam dan terbuka untuk hampir semua disiplin ilmu baik itu tingkat Diploma ataupun Sarjana (S1 s.d S3). Tapi harus cepetan.. karena waktunya agak2 mepet, rata2 penutupan lowongannya sampai minggu depan (maap ya, ini juga baru dapat data/informasinya barusan aja.. hehehe..) OK, karena lowongan nya banyak banget jadi katroboy ga bisa nampilin detail lowongannya disini, langsung aja ke web/situs departemennya masing2 ya… so.. tunggu apa lagi??!! silahkan klik link2 dibawah ini:

Badan Koordinasi Penanaman Modal

Badan Koordinasi Penanaman Modal

Batas akhir lowongann: 10 Oktober 2008
Link: http://www.bkpm.go.id/en/about_us/recruitment_news

Departemen ESDM

Departemen ESDM

Batas akhir lowongan: 13 Oktober 2008
Link: http://cpns.esdm.go.id/

Departemen Kehutanan

Departemen Kehutanan

Batas akhir lowongan: 15 Oktober 2008
Link: http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/4857

Departemen Hukum Dan HAM

Departemen Hukum Dan HAM

Batas akhir lowongan: 15 Oktober 2008
Link: http://www.depkumham.go.id/xDepkumhamWeb/xBerita/xUmum/penumuman+cpns+2008.htm

Departemen Perdagangan

Departemen Perdagangan

Batas akhir lowongan: -
Link: http://www.depdag.go.id/index.php

Semoga bermanfaat.. D

Permalink 1 Komentar

Penerimaan CPNS Badan Meteorologi dan Geofosika Tahun 2008

Oktober 12, 2008 at 12:38 am (Lowongan Kerja dan Beasiswa)

penerimaan cpns BMG

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) adalah Lembaga Pemerintahan Non Departemen yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : KEP/292/M.PAN/9/2008 tanggal 9 September 2008. BMG pada Tahun Anggaran 2008 membuka kesempatan bagi putra putri terbaik Bangsa untuk menjadi Pegawai BMG melalui Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III dan Golongan II.

Pendaftaran dibuka pada hari kerja mulai tanggal 10 Oktober 2008 sampai dengan 24 Oktober 2008 secara serentak di lokasi pendaftaran.

Isi Pengumuman Selengkapnya Klik KLIK DI SINI

Lokasi Pendaftaran klik KLIK DI SINI

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Lowongan PT. SEPINGGAN

Oktober 8, 2008 at 12:40 am (1)

PT. SEPINGGAN, perusahaan yang bergerak di bidang Civil, Electrical & Mechanical Services membutuhkan karyawan untuk posisi :

1. Project Manager
2. Supervisor
3. Civil Engineer

Persyaratan :
1. Lulusan S-1 Teknik Sipil
2. Usia maks. 35 Tahun
3. Memiliki kemampuan Bahasa Ingris lisan & tulisan
4. Pengalaman min. 2 tahun di bidangnya
5. Bersedia bekerja di Balikpapan, Kalimantan Timur

Lamaran via email ditujukan kepada : hrd@sepinggan.com

Permalink 1 Komentar

Lowongan Teknik Sipil di PT Jaya Readymix

Oktober 7, 2008 at 12:27 am (1)

PT Jaya Readymix, perusahaan Joint Venture antara perusahaan Australia, Boral Ltd dan PT Pembangunan Jaya, merupakan perusahaan yang bergerak secara khusus di bidang industri beton dan pertambangan yang saat ini sedang mengalami pertumbuhan yang pesat. Dengan reputasi sebagai perusahaan penyedia produk dan jasa yang berkualitas, kami memberikan kesempatan karir yang baik kepada professional dengan latar belakang pendidikan di bawah ini :

SARJANA TEKNIK SIPIL (Code: TS)

Pelamar yang memenuhi persyaratan akan ditempatkan pada posisi-posisi sesuai dengan kualifikasi, pengalaman kerja dan minat dari kandidat pada departmen : Business Development, Produksi, Engineering, Sales, Laboratorium Beton, Quality Control Beton dan Research & Development.

Persyaratan :

· Pendidikan D3/S1 Teknik Sipil.

· Pengalaman min. 2 tahun diutamakan dari bidang industri readymix, konstruksi, precest concrete piping/pile dan Pondasi/tiang pancang (terbuka bagi fresh graduates)

· Mempunyai pengetahuan yang baik tentang Beton, memiliki kemampuan analisa, komunikasi dan interpersonal yang baik.

· Bersedia ditempatkan diseluruh wilayah operasional perusahaan.

· Dapat menggunakan komputer dan berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan.

Semua surat lamaran akan dijamin kerahasiaannya.Kirimkan surat lamaran anda berikut Daftar Riwayat Hidup dalam Bahasa Inggris dan foto diri terakhir ke:

Human Resources Department
PT. Jaya Readymix
Graha Mobisel 5th Floor
Jl.Buncit Raya No.139 Jakarta 12740
atau
email: jayamix_rec@ cbn.net.id

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar