Undangan untuk TIKUS-TIKUS di acara Gladiator Arena : Buaya vs Buaya X, Tiket Masuk : Gratis…!!!!
pagi-pagi yang ndak buta banget, tiba-tiba koq ada hasrat pengen nulis lagi… yah.. menjaga konsistensi menulis memang susah, apalagi pemula seperti ane.. harus diawali dengan mood.. dilanjutkan dengan mengetik ditemani dengan segelas air putih dingin biar nulisnya lancar… sllreeepp… ahhh..
Balik lagi ke judul, judul yang ini memang agak panjang.. yah biar aja lah.. toh ndak ada yang melarang judul ndak boleh panjang-panjang, dan ngebuat judul panjang pun ane kira ndak bakal mpe ditangkap pak polisi.. hahahaha… =))
kalo pembaca sering melihat telivisi 1 bulan terakhir, (yah walo saya ndak punya tivi di kost, hanya internet) sedang rame-ramenya kejadian tunjuk menunjuk/dudul mendudul ttg krilisminasir ash.. mbuh.. eh.. kriminalisasi KPK dengan cara pembusukan pimpinan KPK. Ada 2 kata yang ane sorot disini yaitu kriminalisasi dan pembusukan. Keduanya jarang dipakai di indonesia. yup.. 2 kata tersebut belakangan menjadi tersohor dan terkenal. Sejumlah rekaman diputar, sejumlah kesaksian ditayangkan termasuk yang fenomenal yaitu kesaksian WW di pengadilan AA. ibarat lagu, WW tiba-tiba menjelma menjadi penyanyi seriosa yang memiliki suara dengan oktaf tinggi. yup saking tingginya hingga memecahkan gelas-gelas kristal kebusukan yang dipakai selama ini.
Sebenarnya siapa tho buaya ?? kalo pertanyaan ini saya tanyakan ke dokter hewan, dengan lantang ia akan menjawab “buaya adalah makhluk berkaki 4 yang hidup di 2 alam dan merupakan karnivora ganas”. hmmm.. coba tanyakan kata “buaya” mahasiswa terutama BEM dan beberapa politikus di Indonesia.. jawabnya bisa jadi “buaya adalah makhluk berkaki 2 yang mencaplok apa-apa yang menghalangi dan mengancam keselamatannya”… ok.. trus buaya itu apa dong..!?!??!
versi ane sendiri bilang bahwa buaya itu adalah KPK. yup KPK is buaya / crocodile / aligator / boyo / tukang caplok. eiittss.. jangan marah dulu.. KPK adalah gambaran buaya sejati. Berani mencaplok mangsa-mangsa yang selama ini dianggap gak mungkin untuk dicaplok. jangankan di caplok, dideketin aja susah, karena si mangsa punya pengawal segudang gajah (udah ndak segajah lagi..). Keberanian KPK sebagai buaya yang kemudian seolah-olah memimpin kasatria keadilan untuk mencaplok tentu membuat si sasaran menjadi cemas.. seolah-olah menunggu giliran.. untuk itu para sasaran segera mengadakan meeting penting bagaimana mengalahkan si buaya tukang caplok tadi. akhirnya muncul gagasan untuk mengadu buaya tersebut dengan buaya dari empang lain.. wow…
akhirya datanglah buaya-buaya X dari empang sebelah.. bukan main-main. buaya X memiliki body yang jauh lebih besar dan koloni yang jauh lebih banyak. kehebatan buaya X terkenal seantero jagad perbuayaan.. bahkan saking hebat dan pintarnya buaya X, banyak makhluk lain yang bertekuk lutut..
setelah bernegosiasi dengan juragan-juragan penyewa jasa buaya X, diperolehlah kesepakatan sesuai dengan yang diinginkan buaya X, yaitu pasokan daging. hahahahaha… si juragan dengan senang hati menyanggupinya.
dan semenjak itu disebarlah pamflet-pamflet ke seantero jagad yang isinya :
Undangan untuk TIKUS-TIKUS di acara Gladiator Arena :
Buaya vs Buaya X,
Tiket Masuk : Gratis…!!!!
para tikus alias juragan-juragan diatas diharapkan datang.
loh koq tikus ?? yup, jangan salah… jagad hewan tak lagi dikuasai si raja hutan singa.. tapi diambil alih oleh koloni TIKUS, hewan pengerat segala.. tikus yang giginya semakin tajam dan singa yang giginya semakin ompong…
untuk sementara ini dilaporkan bahwa buaya X menguasai arena dengan menumbangkan 3 buaya biasa… tapi mendadak buaya X terdesak jauh kebelakang… mau tahu kenapa ?? mau tahu siapa pemenangnya ??
sabar dong.. pertarungan masih panjang… silahkan beli camilan dan siapkan mulut anda untuk mendukung jagoan-jagoan anda… yup.. emang cuman bisanya teriak-teriak beri dukungan… soal idup matinya ya biar buaya aja yang ngerasain… hahahahahaha……
cit..cit…cit…cit..cit… (tikus-tikus menari)
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
Setelah sebulan berperang , maka izinkan kami :

Ilmu hidup ala Abang tukang BAKSO
Ane dikirimin suatu kisah yang bener-bener “nampar” di hati ane, so gak da salahnya ane copas di blog ini, supaya lebih banyak lagi yang “tertampar” dengan cerita dibawah ini, yuk disimak….
Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,…terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak – anak, siapa yang mau bakso ?
“Mauuuuuuuuu. …”, secara serempak dan kompak anak – anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. …
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang – uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?” “Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita – cita penyempurnaan iman “.
“Maksudnya.. …?”, saya melanjutkan bertanya.
“Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari – hari Emang dan keluarga dan untuk modal berdagang lagi.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat…… …..sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.
Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya memang bagus…,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya….”.
Ia menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.
Definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”.
“Masya Allah…, sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso”.
Kampanye anti KDRT… yu’….
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bukan solusi masalah anda, ingat mereka adalah anak dan istri tercinta anda…
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hanya membawa dampak buruk bagi psikologi anak anda, pikirkan sejuta kali ketika anda ingin berbuat kasar pada anak anda…
DENRIO
AKU MELAWAN MOTIVATION TRAINER, HEEMM… WAKAKAKKA…
Pernah ikut seminar-seminar motivation training ? entah itu tentang spiritual training, marketing training or just simple, motivation training.
Wa pernah ikut beberapa training diatas. Beberapa sih bermutu dan baik. Apalagi ditambah dengan penyampaian yang easy listening (lagu kale..) tambah mangstablah…
Nah yang terakhir wa pernah join di marketing training dengan 2-3 motivator. At the first acaranya asik, snacknya enak plus makan siang standart hotel berbintang, hemm lezat.. (wew koq malah ngomongin makanan…?!?)
Nah kembali ke topik semula, ketiga motivator itu bener-bener deh bikin ngiler, enak ajah mereka bilang begini :
“buat apa sekolah tinggi-tinggi dengan biaya mahal kalau nantinya cuman jadi pegawai alias pesuruh perusahaan”
“Ngapain lama-lama jadi pegawai, apa gak bosen disuruh terus ? sekali-kali jadi bos dong, kita yang nyuruh orang laen..!!”
“gaji anda segitu-gitu ajah ? apa nggak iri tetangga beli all new jazz, apa anda gak pengen pindah ke rumah minimalis 3 lantai lengkap isinya seharga 1,5 M ?”
“jadi pegawai mah gak bakalan kaya, gak bakalan beli helicopter, makanya cepat-cepat anda mengundurkan diri dan jadilah wirausahawan yang sukses seperti saya..!!!”
Waktu itu wa mbatin, Wah, ni orang ngomongnya GEDE BENER..!!!
Dia lah enak, koleganya banyak, jadi bisnin apa ajah lancer, ibarat orang jawa bilang mak legender….
Eits tapi tunggu dulu, jangan buru-buru mengundurkan diri dari pekerjaan anda. Wa bisa kasi pertimbangan bahwa jadi pegawai tetap lebih enak… wakakaka.!!!
Battle of me VERSUS Motivation Trainer is begin..!!!
Monggo disimak bapak, ibu sekalian..
Jadi Pegawai itu enak karena :
1. Duitnya jelas halal, soalnya kita tahu prosesnya kita mendapatkan uang tersebut, dari kerja keras kita selama kurang lebih sebulan, so lebih enak buat dimakan. Kalo bisnis mah kadang uangnya suka gak jelas dari mana sumbernya, bisa-bisa kecampur yang haram dengan yang halal, hiii….
2. Hidup nyaman dan tenang karena pasti gajian tiap bulan, berapapun jumlahnya, kalo kita pinter mengelola, insya Allah lebih nyaman. Tidur bisa lebih nyenyak karena gak perlu mikir planning baru untuk mendapatkan profit tambahan
3. Bisa bersantai dengan keluarga, broken home.. no way..!! asal gak macem—macem, seorang pegawai bakal lebih nyaman dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan keluarga tercinta. Kenapa ? karena jam kerja yang jelas dan gak serabutan. Kalo bisnisman ? jam kerja amburadul coy, kadang harus ketemu konsumen jam 10 malem, kadang meeting 3 hari diluar kota, kadang pulang kadang nggak. Kasian anak istri woy, lama-lama bisa lupa ama wajah bapaknya..!!! wakakaka…
4. Bisa nabung, dengan gaji dan tunjangan yang jelas tiap bulannya kita bisa menabung untuk hidup lebih baik. Bisa punya plan hidup yang jelas. Kapan saya bisa beli rumah, kapan bisa naik haji, kapan bisa berlibur dengan keluarga. Kalo BM (bisnis-man) uangnya muter melulu, hari ini di rekening bisa 1,5 M, tapi besuk bisa jadi 500 rebu doang, nggak jelas khan kapan bisa nabung. Jangan-jangan ntar rumah digadaikan lage… waaaaa.. ampoen..
5. Gak perlu sikut kanan sikut kiri untuk mendapatkan uang. Seorang BM kadang harus mengelabui patner bisnisnya atau konsumen-nya agar mau dan tertarik dengan produknya. Gak percaya liat ajah iklan-iklan provider telepon selular. Jualannya pake tanda bintang semua, wekekeke… kalo pegawai gak perlu begitu. Cukup bekerja dengan rajin dan baik, progress kerja yang bagus pasti dapet bonus dan kenaikan pangkat, simpel khan..
Nah itu baru 5 poin enaknya jadi pegawai, jangan teralu terpengaruh dengan motivation trainer brow, ingat gak semua orang punya bakat dagang yang baik, so kalo mau aman, jadi pegawai ajah…!!! Wakakaka…!!!
Selamat Hari Kemerdekaan, MERDEKA..!!!
Di tanggal 17 besuk, wa berharap situasi negara menjadi lebih sejuk dan harmonis tanpa ada tarikan urat kemarahan dan kejenuhan
Di bulan agustus ini, wa berharap nasi aking beruah menjadi nasi putih pulen yang hangat, sayuran yang segar, daging dan susu yang menyehatkan
Di tahun 2008 ini, wa berharap tak ada pohon yang tumbang, gergaji listrik yang berkumandang dan jeritan pilu rakyat yang kebanjiran
Di usia 63 tahun ini, wa berharap manusia Indonesia bisa kembali tersenyum bahagia, tanpa prasangka kecurigaan, tanpa rengut permusuhan
Di ujung tiang sang saka merah putih dikibarkan, wa berharap Indonesia kembali menemukan jati dirinya, kembali menunjukkan persatuan pemuda yang gagah perkasa, cendikia-cendikia yang bijaksana, mahasiswa yang mengharumkan bangsa
Ya Allah, semoga Engkau kembali merahmati bumi Indonesia ini, amin
NING NONG NING NONG
This song played around my head this month.
Very good in lyrics,
Average in vocal,
Btw, hear it byyourself. donlot here :
Filosofi Monyet
Saya pernah membaca suatu hal yang menarik tentang perangkap. Suatu sistem yang unik, telah dipakai di hutan-hutan Afrika untuk menangkap monyet yang ada disana. Sistem itu memungkinkan untuk menangkap monyet dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.
Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.
Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.
Kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu Kita bisa jadi terbahak saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, kita mengenggam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang mengenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberikan maaf, tak mudah melepaskan maaf, memendam setiap amarah dalam dada, seakan tak mau melepaskan selamanya.
Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa “toples-toples” itu kemana pun kita pergi. Dengan beban yang berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan pribadi yang kita alami. Teman, bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan menatap hari esok dengan lebih cerah?
Bukankah lebih menyenangkan, untuk memberikan maaf bagi setiap orang yang pernah berbuat salah kepada kita? Karena, kita pun bisa jadi juga bisa berbuat kesalahan yang sama. Bukankah lebih terasa nyaman, saat kita membagikan setiap masalah kepada orang lain, kepada teman, agar di cari penyelesaiannya, daripada terus dipendam?!
Cinta Sejati Seorang Ibu
“Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan.
Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang kearah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!
Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya saja penampilannya yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, ”Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-temannya di sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, ”Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?”
Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya. Suatu hari anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. ”Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya,”Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu.
Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia.” kata sang ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki barupun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun banyak menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai diplomat.
Ia menemui ayahnya, ”Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua kepadaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.” Ayahnya menjawab, ”Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.”
Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, ”Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.” Tahun berganti tahun. Kedua orang tua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. ”Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah.
“Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?”
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.
Pohon Tua
Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah dibanding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya. Pohon itu pun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung di sana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itu pun merasa senang, mendapatkan teman saat mengisi hari-harinya yang panjang. Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makanan, dan di bawah naungan dahan-dahan. ”Pohon yang sangat berguna,” begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi. Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu dimilikinya. Burung-burung pun mulai enggan bersarang di sana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh. Sang pohon pun bersedih. ”Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang kau berikan padaku? aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa kau ambil smua kemuliaan yang pernah aku miliki?” begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan. ”Mengapa tak kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini?” sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering. Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang. ”Citt…cericirit…citt” ah suara apa itu? ternyata, ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya. ”Citt…cericirit…citt, suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu…dua ..tiga….dan empat anak burung lahir ke dunia. ”Ah, doaku dijawabnya,” begitu seru sang pohon. Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang di sana. Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. ”Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini”, gumam sang pohon dengan berbinar. Sang pohon pun kembali bergembira. Dan dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, air mata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam. Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik di sana? Allah memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita. Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah ditebak, namun yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita saat dititipkannya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikannya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang disandingkannya, bukanlah harga mati. Bukanlah suatu hal yang dapat disiasati.. Saat Allah memberikan cobaan pada sang pohon, maka sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaannya. Allah tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah sedang menguji kesabaran yang dimiliki.
Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkannya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.








