Special Report : Gladak Langgen Bogan (GALABO)
Assalamualaikum.
Kekayaan asset budaya dan wisata kota Surakarta tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Mulai dari kebudayaan jawa yang eksotis, sampai tempat-tempat wisata yang tak pernah habis dikunjungi. Sekitar 2 bulan yang lalu Pemkot Solo membuat sebuah tempat rekreasi baru di kawasan Solo raya. Kawasan wisata kuliner tersebut diberi nama Gladak Langgen Bogan atau disingkat GALABO. Berikut hasil liputan wartawan blog Sipil 2004 tentang Gladak Langgen Bogan.
Solo, 5 Juli 2008
Udara cukup dingin malam itu. Angin berhembus dingin, merasuk sampai kedalam tulang. Dengan kondisi sedingin ini wa yang hanya memakai selembar kaos tetep kekeuh meliput keistimewaan Gladak Langgen Bogan. Mobil wa masukkan ke areal parker yang penuh sesak malam itu. Kemudian wa mulai berjalan menyusuri menuju Galabo. Tepat akan masuk, wa ditegur oleh seorang tak dikenal yang berpostur kurus, tinggi dan gering…. Tiba-tiba saja orang tak dikenal yang berpasangan dengan seorang wanita berjilbab tersebut menodong wa dan berkata “kowe sai`iki musuhko yo…” setelah ia mengucapkan kata-kata tidak jelas tersebut, ia langsung saja ngeloyor pergi bersama pasangannya…. “Hem… ra cetho…”
Wa kembali ke jalur pejalan kaki menyusur stand-stand makanan di sepanjang jalan Galabo. Sepintas wa teringat pada lokasi makan serupa di kota Surabaya. Lokasi makan di jalan tersebut bernama Kya-Kya Kembang Jepun (3KJ). Hanya saja dibandingkan 3kj, suasana di galabo lebih berkesan sederhana. Hanya sedikit meja kursi yang tersedia di sepanjang ruas jalan Galebo. Tikar-tikar yang penuh sesak lebih terlihat mendominasi di hamper sumua sudut Galebo.
Pertama kali menjejakkan kaki di Galebo, wa langsung disambut dengan alunan merdu music keroncong. Irama khas bass betot dan nyaringnya petikan gitar ukulele semakin menambah suasana nyaman pada malam itu. Semakain masuk kedalam suasana semakin padat. Sama seperti wa, orang-orang yang dating malam itu kebanyakan melakukan observasi dulu dengan berjalan meyusuri stand-stand makanan yang tersedia. Cukup banyak nama-nama pedagang kuliner yang terkenal di kota Solo. Sebut saja sate kere Yu Rebi, bakmi jowo Pak Dul, bestik jawa Harjo, kambing oven dan banyak lagi. Tidak hanya itu, masakan khas Solo-pun tersaji komplit disini. Mulai dari Gudeg ceker margoyudan, nasi liwet dan cabuk rambak triwindu, serabi Notosuman sampai pada es gempol pleret yang slllrrruuuuppp…. Ahhh…….
Setelah wa menyusuri stand demi stand di Galebo, akhirnya wa memutuskan untuk makan di stand makanan HT. hidangan yang tersaji di warung tersebut cukup komplit dan didominasi oleh masakan jawa. Tersedia menu oseng-oseng pedas kikil, oseng-oseng pedas usus, ayam goreng bumbu kuning, trancam dan banyak menu lain. Wa memilih menu nasi + oseng-oseng usus + ayam goreng + es teh. Wah enak yo….
Wa lalu menggelar sebuah tikar di tengah jalan didepan stand tersebut. Wa bersama keluarga wad an keponakan wa yang masih kecil makan bersama di tengah jalan, wow it`s a fantastic experience….
Di tengah asyiknya wa melahap makanan, tiba-tiba ada yang memanggil nama saya, “mas Rio…” katanya. Wa langsung mencari sumber suara tersebut. Tak disangka ternyata asal suara tersebut adalah adik tingkat wa yang bernama Canggih (sipil UNS 2007). Wow pertemuan yang tak disangka-sangka. Perlu disampaikan disini bahwa ayah dari Canggih adalah teman satu kost om wa. Jadi pertemuan yang tak disangka tersebut justru menambah tali silaturahim baru.
Puas dengan hidangan yang disajikan di stand makanan HT, wa berkeliling lagi. Wa melihat antrian yang cukup panjang di salah satu stand. Ternyata stand tersebut adalah stand minuman gempol pleret. Langsung saja wa ikut antri dan memesan 3 mangkok es gempol pleret.
Ternyata, es yang terbuat dari campuran santan, bulatan tepung beras dan kembang tahu tersebut memang pas dilahap malam tersebut. Wa semakin bisa menyelami suasana malam tersebut.
Ada yang cukup menarik perhatian wa malam itu. 2 orang berseragam hijau-hijau terlihat berseliweran dengan sebuah tong beroda ditangan masing-masing. Ternyata kedua bapak tersebut adalah petugas kebersihan di Galebo.
Pantas saja Galebo selalu terlihat bersih dan nyaman, itu tak lain karena kesigapan bapak-bapak petugas kebersihan. Salut…salut… terima kasih pak..!!!
Kembali lagi ke cerita, akhirnya setelah menghabiskan es gempol pleret, wa memutuskan untuk mengakhiri kunjungan wa di galebo malam ini. Perlu dicatat bagi anda yang ingin mencoba berkunjung ke Galebo, porsi makanan disini cenderung jauh lebih kecil dari pada bila anda makan di warung yang sebenarnya. So jangan begitu berharap anda kenyang, tapi berharaplah anda puas dengan rasa dan suasananya. Karena wa masih merasa lapar, sebelum pulang wa memutuskan membeli sebungkis bakmi jowo goreng di stand bakmi pak harjo dan pak dul. Jadilah dua porsi bakmi jowo di tangan wad an siap dilahap dirumah. Demikianlah liputan wa dari Gladak Langgen Bogan malam itu. Nantikan liputan wa selanjutnya, masih dari kota Solo tercinta.
Warm regard












