Special Report : Gladak Langgen Bogan (GALABO)

Juli 9, 2008 at 4:44 am (Touring dan Suka-suka) ()

Assalamualaikum.

Kekayaan asset budaya dan wisata kota Surakarta tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Mulai dari kebudayaan jawa yang eksotis, sampai tempat-tempat wisata yang tak pernah habis dikunjungi. Sekitar 2 bulan yang lalu Pemkot Solo membuat sebuah tempat rekreasi baru di kawasan Solo raya. Kawasan wisata kuliner tersebut diberi nama Gladak Langgen Bogan atau disingkat GALABO. Berikut hasil liputan wartawan blog Sipil 2004 tentang Gladak Langgen Bogan.

Solo, 5 Juli 2008

Udara cukup dingin malam itu. Angin berhembus dingin, merasuk sampai kedalam tulang. Dengan kondisi sedingin ini wa yang hanya memakai selembar kaos tetep kekeuh meliput keistimewaan Gladak Langgen Bogan. Mobil wa masukkan ke areal parker yang penuh sesak malam itu. Kemudian wa mulai berjalan menyusuri menuju Galabo. Tepat akan masuk, wa ditegur oleh seorang tak dikenal yang berpostur kurus, tinggi dan gering…. Tiba-tiba saja orang tak dikenal yang berpasangan dengan seorang wanita berjilbab tersebut menodong wa dan berkata “kowe sai`iki musuhko yo…” setelah ia mengucapkan kata-kata tidak jelas tersebut, ia langsung saja ngeloyor pergi bersama pasangannya…. “Hem… ra cetho…”

ini lah orang yang tidak cetho tersebut

ini lah orang yang tidak cetho tersebut

Wa kembali ke jalur pejalan kaki menyusur stand-stand makanan di sepanjang jalan Galabo. Sepintas wa teringat pada lokasi makan serupa di kota Surabaya. Lokasi makan di jalan tersebut bernama Kya-Kya Kembang Jepun (3KJ). Hanya saja dibandingkan 3kj, suasana di galabo lebih berkesan sederhana. Hanya sedikit meja kursi yang tersedia di sepanjang ruas jalan Galebo. Tikar-tikar yang penuh sesak lebih terlihat mendominasi di hamper sumua sudut Galebo.

Pertama kali menjejakkan kaki di Galebo, wa langsung disambut dengan alunan merdu music keroncong. Irama khas bass betot dan nyaringnya petikan gitar ukulele semakin menambah suasana nyaman pada malam itu. Semakain masuk kedalam suasana semakin padat. Sama seperti wa, orang-orang yang dating malam itu kebanyakan melakukan observasi dulu dengan berjalan meyusuri stand-stand makanan yang tersedia. Cukup banyak nama-nama pedagang kuliner yang terkenal di kota Solo. Sebut saja sate kere Yu Rebi, bakmi jowo Pak Dul, bestik jawa Harjo, kambing oven dan banyak lagi. Tidak hanya itu, masakan khas Solo-pun tersaji komplit disini. Mulai dari Gudeg ceker margoyudan, nasi liwet dan cabuk rambak triwindu, serabi Notosuman sampai pada es gempol pleret yang slllrrruuuuppp…. Ahhh…….

Setelah wa menyusuri stand demi stand di Galebo, akhirnya wa memutuskan untuk makan di stand makanan HT. hidangan yang tersaji di warung tersebut cukup komplit dan didominasi oleh masakan jawa. Tersedia menu oseng-oseng pedas kikil, oseng-oseng pedas usus, ayam goreng bumbu kuning, trancam dan banyak menu lain. Wa memilih menu nasi + oseng-oseng usus + ayam goreng + es teh. Wah enak yo…. Wa lalu menggelar sebuah tikar di tengah jalan didepan stand tersebut. Wa bersama keluarga wad an keponakan wa yang masih kecil makan bersama di tengah jalan, wow it`s a fantastic experience….

Di tengah asyiknya wa melahap makanan, tiba-tiba ada yang memanggil nama saya, “mas Rio…” katanya. Wa langsung mencari sumber suara tersebut. Tak disangka ternyata asal suara tersebut adalah adik tingkat wa yang bernama Canggih (sipil UNS 2007). Wow pertemuan yang tak disangka-sangka. Perlu disampaikan disini bahwa ayah dari Canggih adalah teman satu kost om wa. Jadi pertemuan yang tak disangka tersebut justru menambah tali silaturahim baru.

Puas dengan hidangan yang disajikan di stand makanan HT, wa berkeliling lagi. Wa melihat antrian yang cukup panjang di salah satu stand. Ternyata stand tersebut adalah stand minuman gempol pleret. Langsung saja wa ikut antri dan memesan 3 mangkok es gempol pleret.

es gempol pleret

es gempol pleret

Ternyata, es yang terbuat dari campuran santan, bulatan tepung beras dan kembang tahu tersebut memang pas dilahap malam tersebut. Wa semakin bisa menyelami suasana malam tersebut.

Ada yang cukup menarik perhatian wa malam itu. 2 orang berseragam hijau-hijau terlihat berseliweran dengan sebuah tong beroda ditangan masing-masing. Ternyata kedua bapak tersebut adalah petugas kebersihan di Galebo. Pantas saja Galebo selalu terlihat bersih dan nyaman, itu tak lain karena kesigapan bapak-bapak petugas kebersihan. Salut…salut… terima kasih pak..!!!

Kembali lagi ke cerita, akhirnya setelah menghabiskan es gempol pleret, wa memutuskan untuk mengakhiri kunjungan wa di galebo malam ini. Perlu dicatat bagi anda yang ingin mencoba berkunjung ke Galebo, porsi makanan disini cenderung jauh lebih kecil dari pada bila anda makan di warung yang sebenarnya. So jangan begitu berharap anda kenyang, tapi berharaplah anda puas dengan rasa dan suasananya. Karena wa masih merasa lapar, sebelum pulang wa memutuskan membeli sebungkis bakmi jowo goreng di stand bakmi pak harjo dan pak dul. Jadilah dua porsi bakmi jowo di tangan wad an siap dilahap dirumah. Demikianlah liputan wa dari Gladak Langgen Bogan malam itu. Nantikan liputan wa selanjutnya, masih dari kota Solo tercinta.

Warm regard

DENRIO

DENRIO

Permalink & Komentar

Touring to The South Mountain Beach (Perjalanan ke Pantai Gunung Kidul)

Juli 1, 2008 at 3:24 am (Touring dan Suka-suka) (, , , , , , , , , , )

Ini adalah awal dari perjalanan tour kami. Tour pertama, kami putuskan untuk susur pantai ke Gunung Kidul menggunakan sepeda motor. Perjalanan dilakukan tanggal 10 Juli 2005 tepatnya hari Minggu. Sebelum melakukan perjalanan ini kami sempat mengalami kesedihan yang mendalam karena Toma Mandani mengalami kecelakaan di belakang kampus tepatnya sebelum masuk gerbang Hukum UNS. Toma mengalami luka yang cukup parah. Kami bersimpati terhadap keadaan Toma, tapi dengan terpaksa kami memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan ini. Apa yang sudah lama direncanakan harus tetap dilaksanakan. Itulah yang waktu itu kami pikirkan.(sorry ya Ma, kamu ga bisa ikut). Tapi imbas dari kejadian ini adalah sedikit yang mau ikut (mungkin masih trauma dengan kecelakaannya Toma). Selain kejadian itu yang membuat sedikit yang mau ikiut adalah pada waktu ini terjadai lonjakan harga BBM yang tidak pernah kami sangka-sangka. Seperti yang sudah saya katakan tadi “Apa yang sudah lama direncanakan harus tetap dilaksanakan”.

Minggu kami putuskan untuk berangkat. (sebenarnya Tim Genap pada waktu yang sama melakukan camping di Kalisoro Tawangmangu, maklum waktu dulu satu angkatan masih terpisah menjadi 2 tim, tapi ini tidak menjadi suatu permasalahan yang serius. Kami tetap bisa menikmatinya). Ada 18 orang yang ikut, kami menyebutnya Tim Ganjil (heuheu….), 9 orang laki-laki ( Busur, Buset, Danang, Eko, Fajar TN, Ridwan, Heru, Purwanto, Ain si pembalap dihitung sebagai laki-laki) dan 9 orang perempuan (Anggi, Wewe, Nurul, Devi, Yuni, Marika, Aulia, Sri, Anggun), laki-laki dan perempuan cukup berimbang. Sebenarnya kami dah berusaha untuk mengajak banyak orang bahkan kami sudah memaksa dan mengancam, salah satu orang yang kuingat dipaksa adalah Fajar Nyong tapi dia tetap tidak mau. Malahan Fajar TN yang tidak disangka-sangka akan ikut dengan penuh keberanian dan kegagahan memutuskan untuk ikut (aku salut ma dia, akhirnya dia berani memutuskan untuk melihat indahnya dunia ini. Selama ini yang dia lihat kan cuma Simo seperti peribahasa bagaikan katak terkurung di Simo).

OK !! mari kita lanjutkan ceritanya………

Kita berangkat dari Solo jam 7, itu rencananya tapi dalam kenyataannya kita berangkat jam 8 (molor 1 jam sudah biasa…………). kami menggunakan 9 motor dan kami putuskan untuk berpasang-pasangan demi menjaga keselamatan para kaum hawa. Tapi ada 1 yang terpaksa harus sendirian dulu yaitu Ain. Kami pandang dia cukup layak diberi kepercayaan bawa motor sendiri, dia adalah pembalap wanita pertama di Sipil UNS. Dia diberi tugas untuk memboncengkan Sri, dan Sri akan kami jemput di pasar Semin. Harus mempersiapkan segala hidangan untuk sepulangnya dari pantai. Kami yakin dia tidak akan mengecewakan kami. Rencana rute yang akan kami tempuh adalah kos-kumpul bentar di dealer motor Panorama (sekarang futsal Rama dekat fotocopy Modern)-depan kampus-palur-bekonang-sukoharjo kota-tawangsari-weru-semin (ngampiri Sri)-wonosari-desa2 gunungkidul-pantai baron-lewat depan pantai kukup-sepanjang-liat2 drini-lewat depan krakal-sundak-rumahnya sri-jalur berangkat-rumah2 masing2. percaya atau tidak, kami benar-benar melalui rute yang telah kami rencanakan ini tetapi dengan sedikit improvisasi misalnya harus ada perubahan formasi yang bawa kendaraan (Fajar TN terpaksa harus aku boncengkan) alasannya tidak bisa kusebutkan disini (karena dia bawa motornya malah bisa membahayakan orang yang diboncengkan dan kami pikir klo dia masih tetap di depan mungkin kami akan nyampe pantai habis maghrib. Lho kok malah aku sebutkan alasannya ya…..sorry TN, kelepasan aku sebutkan. Jangan marah ya……, itu kan dulu….sekarang kan fajar TN sudah bisa bawa motor sendiri, sudah bisa ngebut malah. Jos tenan pokoke!!! Arep nyaingi Ain? Cerita Fajar TN cukup sekian dan tidak usah dilanjutkan), kami juga sempat ngisi bensin di wonosari, dan terpaksa kami atur formasi lagi karena ada mokmen dan salah satu yang bawa motor ga bawa SIM. Selanjutnya perjalanan dari Wonosari cukup lancar tidak ada tanda-tanda kemacetan, tetapi waktu menjelang finish di pantai, aku melihat sepasang muda-mudi terjatuh keluar jalan di tikungan karena ban motornya kena pasir waktu belok. Kami berhenti sebentar berusaha untuk menolong dan sekedar untuk melihat-lihat saja. Setelah melihat kejadian ini kami menjadi lebih berhati-hati, takut mereply kejadian muda-mudi tersebut. Akhirnya setelah 3 jam perjalanan kami merasakan nyiur melamabai-lambai, deburan ombak memangil-manggil. Kami sampai di pantai……………..

Pantai pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Sepanjang karena menurut pengalamanku susur pantai disana, pantai yang paling sepi dan indah adalah pantai Sepanjang (itu dulu……..). ternyata pengalamanku benar, pantai Sepanjang seperti milik kami sendiri. Sangat sedikit yang pergi ke sini, pantai ini masih belum dikelola dengan baik. Masih perawan dan liar !!!! di sini kami bermain air sepuasnya, ada yang berenang-renang mengikuti alunan ombak, ada yang Cuma duduk2 liat2 yang lain, ada juga yang merelakan tubuhnya ditimbuni pasir laut pelaku kebodohan ini adalah Buset, siapa lagi klo bukan dia. Semua orang dipaksa masuk ke air minimal seluruh tubuhnya terkena air tidak terkecuali para wanita, hanya satu yang masih kering. Orang yang sangat beruntung itu adalah Sri Rahayu yang asalnya dari Semin dan yang paling ngosek di Sipil UNS sepanjang jaman. Kami tidak berani untuk memaksanya terkena air karena dia bukan muhrim kami. Satu yang spesial dari Sri pada waktu itu. Yaitu Sri masih pakai celana panjang (ga percaya kan sri pakai celana panjang ???) belum memakai rok. Mungkin ini terjadi karena pada waktu itu kita belum mendapatkan mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan. Di pantai ini, aku sempat menggak minuman keras. Benar-benar keras memang karena yang aku minum adalah bensin murni dari pom bensin (bayangpun…???). katanya teman-teman sih extra joss ternyata itu adalah bensinnya buset yang diwadahi botol aqua 1.5 literan. Aku tertipu mentah-mentah, hampir saja dia mencelakaiku. Mungkin ALLAH masih menyanyangiku karena aku belum sempat memasukkan bensin ini ke dalam tubuhku, aku segera memuntahkannya. Tapi ini adalah pengalaman yang tidak dapat aku lupakan sepanjang hayatku.

Setelah puas bermain di pantai Sepanjang kami melanjutkan perjalanan ke pantai Sundak. Perjalanan kami lanjutkan tanpa membersihkan diri terlebih dahulu karena di Sepanjang ga ada kamar mandi kalaupun ada pasti bayar, kami putuskan untuk sekalian mandi di rumah Sri. Kami yakin tubuh kami akan kering secara alamiah dalam perjalanan (anehnya hal ini terbukti benar). Kami berhenti di Pantai Sundak, di sini sebagian perempuan ada yang tidak sanggup menahan lapar perutnya dan memutuskan makan dulu walaupun di rumah Sri makan lagi. Para laki-laki terpaksa menahan lapar karena minimnya budget, akhirnya kami menikmati indahnya pantai dari atas sebuah batu karang. Sebagian lihat-lihat pantai klo-klo ada yang butuh pertolongan kami, sebagian yang lain hunting wanita. Kami dipaksa untuk menerima kekecewaan karena kebanyakan wanita masih dibawah umur yang belum pantas untuk digoda. Tapi tak apalah, kami cepat bosan di sini. Makanya kami tidak berlama-lama di sini, dari sini kami memutuskan untuk pulang karena hari juga masih panas. Pulangnya kami sudah melupakan kejadian muda-mudi yang jatuh (begitu cepat kami melupakannya). Faktanya semua menjajal kemampuan maksimal motornya, di atas 90 km/jam motor dipaksa berlari. Ini juga pembuktian Ain sebagai pembalap nomor wahid di Sipil UNS. Semua laki-laki dibabat habis, Sri yang nggonceng saja hampir melayang-layang (untung Sri imannya kuat, dia terus berdoa sepanjang perjalanan). Mungkin ini juga jadi sayembara buat Ain, bagi laki-laki yang bisa mengalahkannya akan dijadikan pendamping hidupnya. Semua berusaha untuk mengalah, hanya ada 2 yang berpeluang mengalahkannya yaitu Purwanto (emang ini rival terberat Ain) dan satunya adalah Danang budi Nugroho yang perutnya sudah kepengin boker, daripada keluar di jalan maka dia ngebut sekencang-kencangnya untuk sampai pertama kali di rumahnya Sri dan bisa menggunakan kamar mandi tanpa ada yang mengganggu (mungkin ini juga akibat ga mau keluar uang 1000 perak untuk bayar di kamar mandi pantai). Ternyata pemenangnya adalah Sri, Ain ikut jadi pemenang karena memboncengkan Sri. Sri jadi pemenang karena yang tau rumahnya Sri kan Cuma dia seorang, secepat apapun yang lain pasti nunggu dia pasar Semin. Sampai sekarang belum ada yang bisa mengungkap misteri siapa yang bisa mengalahkan Ain. Wallahu Alam.

Kepercayaan penuh kami kepada Sri ternyata tidak sia-sia, sampai di rumah Sri kami dijamu dengan baik. Lebih tepatnya kami berpesta pora!!! Pas lapar-laparnya, gratis lagi. Pokoke Mak Nyus !!! di rumah Sri kami mandi sepuasnya, disini kami juga tersadar bahwa stigma negatif bahwa Gunung Kidul adalah daerah yang kering dan kekurangan air tidak terbukti di sini. Air melimpah ruah di sini, ibaratnya orang kencing pasti jadi air. Dan yang jelas mandi di sini ga harus bayar.

Setelah merasa kenyang, kami berpamitan kepada kedua orang tuanya Sri untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan kami masih sangatlah panjang dari Semin ke Solo, penuh onak dan rintangan. Perlombaan adu cepat motor kami mulai lagi dari rumahnya Sri ke Solo. Semua melaju sekencang-kencangnya berharap selamat sampai Solo. Belum begitu petang kami semua sampai Solo dengan selamat. Semua suka karena telah mengalami pengalaman hidup yang sangat menyenangkan dan sangat cocok untuk cerita anak putu. Aku yakin yang ga ikut touring ini pasti akan menyesal sepanjang hidupnya dan berharap doraemon akan datang membawa pintu ajaib dan mau mengantarnya kemabali ke masa ini . tapi itu mustahil !!! tetaplah kecewa sepanjang hidup Anda !!!! makanya kalau ada acara main-main itu ya proaktif untuk ikut. Syukur-syukur mau mbayari. Sing Mbaurekso melaporkan untuk Blog Sipil 2004.

Permalink & Komentar